Mengapa Ketergantungan Pupuk Dan Pestisida Petani Kita Seperti Menghisap Candu

Hallo petani dunia, judul tulisan kita kali ini sedikit kontradiktif, sebab realita di lapangan selalu kami temui seperti judul diatas, jadi layaknya candu, sekali memakainya anda akan kecanduan dan semakin lama memakainya, semakin anda tidak bisa berhenti menggunakannya, demikianlah kenyataannya.

Candu pupuk ini ditemui hampir disetiap desa pertanian di Indonesia, disamping sebagai peluang bisnis bagi produsen pupuk, juga sebagai ancaman bagi ketersediaan unsur alami hara tanah.

Demikian pula halnya dengan pestisida, seringkali untuk mengimbangi modal yang dikeluarkan dalam usaha budidaya pertanian, petani tidak memikirkan tentang ekosistem alam yang sedang terjadi pada tubuh serangga hama, ketika hama menciptakan ketahanan terhadap racun pestisida, dan ketahanan itu diturunkan pada generasi berikutnya.

Karena sikap penggunaan pestisida yang tidak bijaksana tersebut, sehingga setiap kali musim tanam memaksa petani harus menggunakan pestisida dalam dosis yang lebih.

Demikian juga halnya dengan tanah, seringkali kita berfikir untuk mendapatkan media tumbuh yang subur diharuskan memakai pupuk yang berlebihan, pupuk urea misalnya, bertahun-tahun pupuk ini digunakan dalam jumlah yang tidak terhingga, sehingga menciptakan kondisi tanah yang tidak solid.

Penggunaan pupuk urea dalam jangka waktu yang cukup lama, akan menciptakan karang tanah, dimana pupuk yang tidak terurai tersebut mengeras, dan hal ini berdampak tidak baik untuk pertumbuhan akar tanaman.

Kita seakan berfiklir akar tanaman tumbuh dan melekat pada tanah, namun sejatinya akar ini hanya melekat pada tanah yang kadarnya tidak mencukupi untuk menopang pertumbuhannya, dan sisanya adalah karang tanah yang berasal dari pupuk urea yang tidak terurai dengan baik.

Dilema candu pupuk dan pestisida ini akan terus berlanjut diseluruh areal pertanian hortikultura Indonesia, tanpa ada usaha yang signifkan untuk meremajakan kembali unsur hara tanah, maka bisa dipastikan petani indonesia akan senantiasa menjadi pecandu pupuk.

Demikian juga halnya dengan pestisida, tanpa ada usaha yang serius untuk merubah pola pikir petani terhadap cara pengendalian hama, maka bisa dipastikan setiap dekade akan selalu ada serangga-serangga yang tahan banting, tahan racun untuk setiap generasinya.

Lalu bagaimana cara mengatasi “Candu” yang tidak menguntungkan terhadap modal usaha pertanian ini, untuk mengatasi persoalan candu ini juga sesungguhnya tidaklah rumit, secara garis besar, perlu dilakukan penguraian pupuk urea yang telah menjadi karang tanah, dengan cara memanfaatkan bakteri pengurai.

Penguraian karang tanah ini sudah terjadi di beberapa kelompok tani, dengan memanfaatkan kompos sebagai unsur utamanya.

Jadi pemirsa dimanapun anda berada, mulailah kita menyadari dan menghitung kembali bagaimana penggunaan urea yang berlebihan terhadap usaha pertanian, dan menganalisa berapa kebutuhan urea yang digunakan untuk setiap musim tanam, karena sesungguhnya urea yang tidak terurai tersebut telah menjadi karang tanah, dan harus di aktifkan kembali sebagai nutrisi untuk tanaman.

(Ilustrasi)
Sekian dulu pembahasan kita tentang candu pupuk dan pestisida pada tanaman, semoga tulisan ini memberikan pemikiran baru bagi pembaca dunia, sampai jumpa di artikel selanjutnya, salam.

0 comments