Memahami Peledakan Hama Akibat Penggunaan Pestisida

peledakan hama akibat pestisida

Tuan dan Puan yang berprofesi sebagai petani tentunya pernah menggunakan pestisida dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, terlebih lagi bagi tuan petani yang mengejar hasil panen melimpah menjelang bulan puasa hingga lebaran Idul Fitri, agar hasil panen meningkat berbagai upaya dihalalkan supaya tanaman tidak diserbu oleh berbagai hama dan penyakit, yang tentunya menurunkan hasil panen tuan petani.

Karena kebanyakan penggunaan pestisida terlalu ambisius sehingga melupakan keseimbangan lingkungan, maka kali ini blog tanaman ini mencoba membahas apa itu “Peledakan Hama” akibat penggunaan pestisida berlebihan.

Didalam literature akademik para ahli penulis buku panduan pertanian khususnya pestisida, selalu menyarankan agar tuan petani menggunakan pestisida secara bijaksana dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, meski tuan penulis selalu berpesan demikian dalam buku-buku panduan, namun tuan petani sepertinya tidak ambil pusing, sehingganya tanpa disadari penggunaan pestisida berlebihan ternyata juga memiliki dampak negative yang banyak, salah satunya terjadinya peledakan hama.

Sesungguhnya peledakan hama akibat penggunaan pestisida ini tidak saja pada hama sasaran, namun ada pula meningkatnya perkembangan hama sekunder, dalam kajian akademika universitas diistilahkan dengan “peledakan hama sekunder”.

Lalu kemudian timbul pertanyaan, bagaimana bisa terjadi peledakan hama akibat penggunaan pestisida pada tanaman, untuk pertanyaan seperti ini sebenarnya harus kita jawab dengan hasil penelitian yang berkelanjutan, namun tentunya tidak semua tuan petani memahami bahasa-bahasa asing akademik dalam penjelasan hasil penelitian, untuk itu kita persingkat saja dengan pengertian sebagaimana dibawah ini.

Salah satu “Karomah” yang diberikan Sang Pencipta terhadap hewan yang tertuduh hama ini, adalah adanya kemampuan hama untuk menciptakan antibody tersendiri ketika ia selalu berhadapan dengan zat yang akan menganiaya tubuhnya, hama dan mikroorganisme penyakit tanaman memiliki kemampuan untuk memanfaatkan toxit yang disemprotkan melalui pestisida, pemanfaatan itu adalah dengan menjadikan racun tersebut sebagai bagian dari tubuhnya, sehingga manakala tuan petani pada waktu yang cukup lama selalu menyemprotkan pestisida yang sama, maka yang terjadi berikutnya pada tubuh hama dan penyakit adalah ketahanan terhadap pestisida tersebut.

Para ahli bioteknologi pertanian memberinya istilah dengan nama “Ketahanan alami” serangga terhadap racun kimia, sebagai bahan pertimbangan tuan pembaca tentunya pernah menyemprotkan pestisida yang sama terhadap serangga hama, namun yang terjadi serangga tersebut tidak mati, hal itu karena didalam tubuhnya telah tercipta “vaksin” alami dari bahan pestisida.

Penjelasan dua paragraph diatas mungkin tidak terlalu menakutkan bagi tuan petani, namun ternyata ada pula “Karomah” yang lain yang diluar dugaan tuan petani, hal tersebut adalah akibat penggunaan pestisida dalam jangka waktu yang lama, karomah yang lain itu adalah, terjadinya percepatan pembuahan atau kelahiran pada serangga hama sasaran, hal itu karena dipicu oleh zat pestisida itu sendiri, jika ini yang terjadi pada areal pertanaman tuan petani, maka ketahuilah yang demikian tersebut dinamakan dengan “Peledakan hama”.

Serangga hama sasaran tidak mati ketika disemprotkan dengan pestisida, malah bertambah banyak telur dan semakin cepat telur tersebut menetas, jika demikian yang terjadi maka sepakatlah kita bahwa diareal pertanaman tuan tersebut telah terjadi peledakan hama akibat penggunaan pestisida.

Lalu bagaimana pula dengan yang disebut dengan “Peledakan hama sekunder”, sebenarnya jalan peristiwanya sama dengan penjelasan kita pada paragraph diatas, hanya saja bedanya hama yang berkembang semakin pesat tersebut bukanlah hama sasaran dari pestisida yang disemprotkan, namun hama lain yang juga hidup pada inang yang sama.

Untuk lebih memudahkan tuan pembaca dan tuan petani menelaah pengertian “Peledakan hama sekunder ini”, marilah kita bahas sebuah contoh, misalkan tuan petani melakukan penyemprotan pestisida untuk membunuh serangga kepik pada areal pertanaman padi sawah, setelah melakukan penyemprotan dalam waktu dua minggu, serangga kepik mati dan musnah, namun ternyata ada pula kumbang penghisap yang hidup di malai daun padi tuan petani, dimana zat yang dikandung pestisida tersebut ternyata menguntungkan bagi kumbang pengisap, sehingga kumbang penghisap sering kawin lalu bertelur dalam waktu singkat dan telur itu menetas dalam waktu yang lebih cepat lagi.

Karena serangga penghisap bertambah cepat dan banyak pertumbuhannya, pada akhirnya serangga ini juga menghisap cairan putih dalam bulir padi yang masih muda, akhirnya padi tuan petani jua yang menjadi sasaran makanannya, nah demikianlah ilustrasi “Peledakan hama sekunder” akibat penggunaan pestisida.

Suka atau tidak tanpa disadari hal ini sering terjadi di areal pertanaman tuan petani, maka dari itu produsen-produsen pestisida selalu mendapat keuntungan yang luar biasa banyaknya, karena mereka akan terus menciptakan pestisida single target.

Sekarang tuan pembaca dan tuan petani bisa membayangkan, berapa banyaknya jenis serangga hama yang terdapat pada areal pertanaman, jika untuk setiap jenis serangga diberikan satu jenis pestisida, tentunya tuan petani akan mengeluarkan ongkos yang lebih mahal lagi, agar tanamannya terbebas dari semua hama pengganggu.

Mudah-mudahan tuan pembaca dan tuan petani yang sedang berkunjung ke blog ini menyadari, ketika terjadi serangan hama yang begitu dahsyat, jangan dulu menyalahkan pemerintah yang tidak sudi menurunkan harga pupuk dan harga pestisida, namun bercermin dirilah terhadap apa yang tuan lakukan sebelumnya, adakah tuan pengguna pestisida yang kurang bijak sehingga tanpa disadari tuan sudah menjadikan hama tersebut tahan terhadap racun pestisida.

Demikianlah pembahasan kita untuk peledakan hama akibat penggunaan pestisida, jika ada yang ingin tuan pertanyakan dan diskusikan, jangan sungkan silahkan tuliskan pada kolom komentar.

Salam hijau …

Foto : Bahan ajar pestisida, Fakultas Pertanian Universitas Andalas



0 comments