Kultur Teknik, Cara Penyemaian Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu pertanaman cengkeh adalah dimulai dari cara melakukan pembibitan atau penyemaian sampai pada pemeliharaan tanaman cengkeh yang telah berproduksi. Penyemaian yang baik dimulai dari proses pemilihan biji yang baik, pembuatan tempat penyemaian hingga perawatannya. Dibutuhkan ketelatenan dalam proses penanaman serta perawatannya, agar tanaman cengkeh menghasilkan bunga seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, perlulah kiranya para petani atau siapa pun yang berkepentingan dalam urusan cengkeh memperhatikan hal-hal berikut.

A. Pemilihan biji untuk pembibitan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih biji yang akan dijadikan bibit adalah sebagai berikut:
1. Pilihlah biji dari pohon induk yang telah berumur 14 tahun ke atas, yang memiliki tingkat produksi yang tinggi, kualitas dan kuantitasnya baik, subur serta tahan terhadap hama dan penyakit tanaman.
2. Biji yang diambil adalah yang berwarna kuning muda, kondisinya mulus, jangan mengambil biji yang berbercak kehitaman.
3. Ukuran biji harus normal, jangan terlalu kecil atau terlalu besar.
4. Biji berisi atau padat, cara mengetahuinya adalah dengan merendam biji yang telah dikupas ke dalam baskom yang berisi air, biji yang tenggelam ke dasar baskom itulah yang digunakan, biji yang mengapung kurang baik untuk dijadikan bibit.

B. Pembuatan penyemaian
Hal yang harus diperhatikan dalam membuat tempat penyemaian adalah tanah yang digunakan serta kondisi lokasi yang harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman cengkeh adalah sebagai berikut:
1. Pilihlah tanah yang gembur dan subur karena mengnadung banyak unsur hara sebagai bahan makanan tanaman, jangan menggunakan tanah yang mengandung batuan dan tanah liat karena akan menghalangi pertumbuhan akar tanaman.
2. Kontur tanah sebaiknya yang agak miring (tapi jangan terlalu miring) agar memudahkan pembuangan air hujan yang berlebihan dan menghadap ke arah timur.
3. Berikan peneduh yang akan berfungsi untuk menahan jatuhnya butir-butir hujan yang terlalu besar, mencegah sinar matahari yang terlalu terik, serta penahan tiupan angin yang terlalu kencang.
4. Sebaiknya lokasi penyemaian dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah agar memudahkan dalam pengawasannya, serta sebaiknya dibuat berpencar untuk memudahkan penyebaran bibit nantinya.

C. Penyemaian
Biji tanaman cengkeh tidak dapat ditanam langsung ke tanah atau lahan, terlebih dahulu harus dilakukan penyemaian untuk menumbuhkan kecambahnya setelah itu dilakukan penyemaian tetap. Dalam penyemaian tetap ini, ada dua hal yang biasanya dapat dilakukan yaitu penyemaian tetap secara langsung dan tidak langsung, yang dimaksudkan dengan langsung disini adalah, bibit yang telah berkecambah pada bak perkecambahan dibuatkan bedengan, kemudian bibit tersebut dicabut dan dipindahkan ke penyemaian tetap. Sedangkan cara tidak langsung adalah dengan memindahkan kecambah-kecambah tersebut ke dalam polybag yang kemudian dipelihara sampai berumur kurang lebih satu tahun. Namun, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penyemaian secara tidak langsung.

Dalam menumbuhkan perkecambahan tanaman cengkeh harus dilakukan beberapa persiapan, yaitu:
1. Siapkan bak-bak perkecambahan yang dibuat dari peti kayu atau bahan lain yang tahan, panjang dan lebarnya sesuai dengan kebutuhan, asalkan dapat menampung campuran pasir dan gambut setebal kurang lebih 30 cm dari dasar bak, dengan perbandingan 3 : 1.
2. Biji yang telah siap tanam harus segera ditanam dalam lubang-lubang pasir dengan jarak 3 x 5 cm atau 5 x 5 cm. Perhatikan saat menanam biji, upayakan jangan sampai terbalik karena akan menyusahkan bibit cengkeh.
3. Jagalah kelembaban bak perkecambahannya karena itu gunakan naungan tetapi jangan terlalu rapat.
4. Jangan melakukan penyiraman langsung pada biji agar posisi biji tidak berubah, karena lakukan dengan cara dipercik-percikkan sampai basah. Ada baiknya menggunakan jerami atau karung goni, karena air yang disiramkan akan terlebih dahulu membasahi jerami atau karung goni yang nantinya akan diteruskan ke permukaan pasir dimana niji ditanam.

Penyemaian tetap secara tidak langsung
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Gunakan polybag yang agak tebal dengan lebar sekitar 15 - 20 cm, dan tinggi 20 - 25 cm. Isilah polybag dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk organik perbandingan 2 : 1, dan jangan dipadatkan.
2. Tanamlah kecambah pada polybag tersebut, usahakan penanamannya ditengah-tengah polybag. Kemudian susun polybag tersebut ke dalam bedengan dengan jarak antar polybag 30 x 30 cm atau 30 x 40 cm.

D. Pemeliharaan penyemaian
1. Penyiraman dilakukan jika hari tidak hujan, lakukan saat pagi dan sore hari, jangan terlalu basah karena dapat menyebabkan penyakit Gloe sporium. Jika bibit telah besar, penyiraman sebaiknya dikurangi.
2. Lakukan penggemburan tanah di sekitar batang tanaman, dan sebaiknya berhati-hati agar tidak merusak akar tanaman.
3. Peneduh atau atap penutup bedengan jangan terlalu rapat karena akan lembab sehingga jamur akan lebih mudah tumbuh, dan jangan pula terlalu jarang karena sinar matahari yang terik akan membakar daun-daun muda. Jika tanaman telah berumur 2 bulan, sebaiknya lakukan penjarangan atap pelindung secara bertahap, untuk melatih bibit tanaman sehingga tahan terhadap penyinaran.
4. Jangan sampai air hujan tergenang di sekitar bedengan untuk mencegah kebusukan. Dan jagalah kebersihan sekitar bedengan dari rumput dan segala macam kotoran yang dapat mengganggu pertumbuhan bibit tanaman.
5. Lakukan pemupukan jika tanaman telah berumur sekitar 3 - 4 bulan, gunakan pupuk yang mengandung NPK 1:1:1, tiap bibit diberikan dosis kurang lebih 1 gram, jika agak merepotkan gunakan takaran berikut: takar pupuk dengan menggunakan gelas plastik bekas aqua sebanyak 1 gelas dan air sebanyak 1 tangki penyemprotan. Jika hanya menggunakan pupuk urea saja gunakan takaran 0,5 gram/bibit. Pemupukan kedua dilakukan saat bibit berumur 8 bulan dengan dosis NPK 2 gram/bibit atau jika menggunakan urea 1 gram/bibit.

menanam-tanaman
(Sumber foto: udtunasmudasejahtera.indonetwork.co.id)




0 comments