Budidaya Tanaman Kentang (Solanum tuberosum)

Budidaya
Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan budidaya tanaman kentang ini adalah sebagai berikut:

1. Kentang menyukai tanah yang diolah dengan baik, gembur dan memiliki drainase yang baik.

2. Umbi yang baik untuk bibit adalah umbi yang sebesar telur utuh, telah bertunas baik.  Umbi bibit harus ditanam langsung dalam pupuk kandang, kira-kira sedalam 20 - 25 cm, kemudian  umbi ditutup kembali dengan tanah bedengan hingga kedalaman 10 - 12 cm, agr kegiatan budidaya seperti penyiangan, pemupukan, penyemprotan dan pembubungan lebih mudah. Umbi yang telah bertunas dengan baik memiliki banyak keuntungan seperti pertumbuhan yang lebih cepat sehingga waktu serangan patogen terbawa tanah  seperti Rhizoctonia solani lebih pendek. Idealnya, tunas harus meilki panjang 2 - 3 cm serta kuat dan hijau. Hal dapat tercapai dengan menyimpanya dalam gudang yang memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik, akan lebih baik jika di letakkan dalam kotak 'chitting' yang dibuat dengan baik yang memungkinkan dapat dilakukan pemriksaan umbi secara periodik. Umbi yang busuk harus dibuang. Karena kultivar-kultivar berbeda-beda masa dormansinya, varietas yang bertunas cepat memerlukan perlakuan penyerbukan dengan menghambat pertunasan (sprout depressant). Fusarex sangat baik untuk hal ini, selain dapat juga berfungsi sebagai pelindung dari penyakit busuk kering (Fusarium solani var. coeruleum). JIka memungkinkan umbi-umbi besar sebaiknya jangan dipotong-potong untuk bibit, karena kemungkinan kerugian oleh bakteri busuk basah dan jamur tanahakan sangat besar. Jika hal tersebut tidak dapat dihindarkan, maka potongan-potongan tersebut harus dirawat dengan baik sebelum penanaman.

3. Sebaiknya guludan atau bedengan dibuat terpisah dengan jarak 60 cm.

4. 15 - 20 ton/ha pupuk organik matang harus disebar merata pada dasar bedengan. Selain itu harus ditambah dengan 200 kg/ha pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM. Jika pupuk organik tidak tersedia, maka pupuk majemuknya dapat ditambah menjadi 400 kg/ha. Hal terpenting yang harus diingat saat melakukan pemupukan dengan bahan organik adalah  jangan menebarnya di atas permukaan tanah karena manfaat bahan organiknya akan hilang karena proses oksidasi.


5. Pembubunan harus dilakukan minimal dua kali, pertama kali ketika tanaman mencapai tinggi 20 cm dan kedua pada saat sebelum tajuk daun menutupi setengah ruang antar bedengan. Pada saat itu jika diperlukan, dapat diberikan tambahan pupuk dalam lajur pada bedengan sebelum pembubunan untuk memastikan tidak ada pupuk yang hilang saat hujan turun.  Selain itu, keuntungan lain dari pembubunan adalah jika di daerah tropika, saat hawar daun dan ngengat umbi aktif pembubunan yang baik akan mengurangi kemungkina spora hawar dan larva ngengat umbi mencapai umbi, dan membantu menghindarkan kemungkina kerugian besar dalam penyimpanan nantinya.

Perlindungan Tanaman
Tanaman kentang rentan terhadap hama dan penyakit. Hawar basah (Phytophthora infestans) merupakan penyakit jamur yang paling serius menyerang kentang; jika menyerang saat awal berarti akan terjadi kehilangan besar-besaran hasil panen jika tidak dilakukan tindakan pengendalian. Penggunaan varietas yang resisten kini telah tersedia, tetapi karena jamur telah bervariasi, maka ketahanannya kadang sulit terutama ketahanann yang diatur oleh gen mayor kentang. Bahan kimia masih sangat diperlukan untuk m,engendalikan penyakit ini dan beberapa diantaranya yang cocok untuk untuk penyakit ini adalah Ridomil MZ, Dithane M-45, captafol, dan Difolatan. Ridomil MZ harus digunakan bergantian dengan fungisida spektrum lebar untuk menghindari ketahanan jamur terhadap komponen Metaloksilnya. Lagi-lagi pembubunan merupakan hal penting untuk melindungi umbi terhadap infeksi. Jika hawar ini datang pada stadia yang lanjut (tua), cukup melakukan penyemprotan dengan herbisida seperti paraquat dan diquat. Jika mungkin, sebainya dikuti dengan penyemprotan senyawa tembaga. Dan sebainya mencelup umbi bibit dalam fungisida seperti Aretan atau Captan sebelum dikeringkan dan disimpan.

Hawar kering (Alternaria solani) dapat menyebabkan kerontokan daun yang parah,  penggunaan zineb dapat mengendalikannya. Kudis hitam (Rhizoctonia solani) merupakan penyakit yang paling luas penyebarannya dari semua penyakit kentang yang muncul dalam kondisi yang panas dan lembab, dapat menyebabkan kerugian berat pada tanaman melalui infeksi-infeksi tunas yang muncul pertama kemudian menyebar ke batang dan leher akar, sehingga tanaman menjadi layu. Penanggulangannya dengan menggunakan fungisida Rizolex pada bibit atau benih.

Penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) merupakan penyakit paling serius di daerah tropika panas, dan sampai sekarang belum ada varietas yang resisten terhadap penyakit ini. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah melalui penggunaan benih bersih, pergiliran dengan tanaman yang tidak rentan dan jika terjadi penimbuna penyakit, lakukan dua atau tiga hari bero (masa istirahat lahan) disertai dengan pengolahan tanah yang sering, hal ini untuk mendedah bakteri terhadap panas matahari. Bakteri busuk basah (Erwinia spp.) dapat menyebabkan kerugian besar saat penyimpana, di lapangan bakteri ini menimbulkan penyakit kaki hitam. Oleh karena itu, lagi-lagi bibit yang bersih dan pencelupan dengan fungisida untuk umbi bibit, yang harus dipilih secara teliti dan bebas cacat akan membatasi infeksi.

Virus mozaik dan daun menggulung kadangkal ditemukan juga dalam pertanaman kentang, infeksi berat dari kedua virus tersebut dapat mengurangi hasil sampai 80%. Sebaiknya gunakan bibit yang bersertifikat, teapi jika tidak tersedia, petani harus membuang semua tanaman yang menunjukkan gejala infeksi virus ini serta mengendalikan vektor-vektornya terutama serangga afid.

Hama ngengat umbi kentang (Phythorimaea operculla) dapat sangat merusak baik di lapangan maupun dalam penyimpanan kentang. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan pembubunan bedengan yang baik, pada infeksi berat, bahan kimia diperlukan untuk pengendaliannya. Alangkah lebih baik, jika menggunakan perangkap cahaya untuk menangkap ngengat yang bertelur.

menanam-tanaman
(Sumber foto: dodi-merangin.blogspot.com)





0 comments