Budidaya Tanaman Kacang Kedelai (Glycine max)

Kedelai merupakan tanaman tegalan (field crop), tetapi kadang biji-biji yang belum tua dapat juga dimakan sebagai sayuran hijau. Masalah utama dalam budidaya kedelai di daerah tropika sekitar khatulistiwa adalah bahwa fotoperiode yang relatif pendek merangsang pembungaan awal pada kebanyakan varietas unggul. 

Kebanyakan varietas kedelai diseleksi untuk pertanaman musim panas di daerah tropika. Tetapi di dalam varietas tertentu terdapat spektrum luas tanggap fotoperiode, termasuk tipe yang dapat ditanam di daerah yang berhari netral (seimbang antara hari panas dan dinginnya), sehingga tersedia hasil seleksi yang berpotensi berproduksi tinggi atau dapat diseleksi melalui penelitian adaptif untuk digunkan di dataran rendah tropika. Dengan jarak tanam yang rapat dan pemupukan yang tinggi diperoleh hasil-hasil tinggi di daerah dengan siang hari yang pendek. Dalam kondisi fisik yang baik jarak antara baris 40 cm sudah cukup untuk daerah tropika sekitar khatulistiwa pada semua ketinggian. Pada kondisi yang lebih buruk dianjurkan jarak tanamnya 25 cm. 

Pupuk yang dianjurkan adalah 200 - 400 kg pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM per hektar, tergantung dari tingkat pembintilannya. Kedelai, sekali diinokulasi akan mempertahankan bakteri Rhizobium-nya selama beberapa tahun.

Perlindungan Tanaman
Penyakit karat (Phakospora pachyrrhizi) adalah penyakit yang paling berbahaya dan tersebar luas. Ada beberapa varietas yang agak tahan, tetapi untuk mengendalikannya dengan baik biasanya diperlukan senyawa kimia. Penyakit lain yang juga tersebar luas  adalah penyakit penyebab warna ungu dari biji (Cescospora sojina), bercak cokelat (Septoria glycinesi), serta penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Pyrenochaeta glycines. Untuk mengendalikan semua penyakit tersebut, benih bersih merupakan hal mutlak dan perawatan benih perlu juga dilakukan, sedangkan perlakuan kimiawi tidak terlalu dibutuhkan tergantung dari cuaca.

Di antara penyakit-penyakit bakteri, bercak daun (Pseudomonas syringae pv. glycinae), penyakit kutil bakteri (Xanthomonas campestris pv. glycines) dan hawar biasa (Xanthomonas campestris pv. phaseoli) tersebar luas dan merusak dalam kondisi yang cocok; benih terinfeksi lewat polong. Lagi-lagi benih bersih diperlukan dan fungisida tembaga agak memberikan pengaruh dalam pengendaliannya. Virus yang paling lazim adalah virus mozaik, yang dapat mengurangi setengah hasil pada infeksi yang berat. Benih bersih, pembuangan segera tanaman terinfeksi dan pengendalian dengan vektor merupakan cara pengendalian yang mutlak diperlukan.

menanam-tanaman
(Sumber foto: sulsel.litbang.deptan.go.id)

0 comments