Parameter Pengukuran Penyakit Tanaman

Mengetahui cara kerja penyakit tanaman selaku penyebab kehilangan hasil pada tanaman mutlak harus dipahami, setelah paham tentang penyebab dan akibat dari penyakit, maka yang perlu diketahui lagi adalah cara mengukur besarnya penyakit itu, khususnya mengenai skala yang tepat untuk digunakan, dan satuan pengukuran yang cocok untuk dipakai, sedapat mungkin semua kriteria tersebut adalah suatu kriteria yang baku.

Parameter Pengukuran Penyakit Tanaman
(Ilustrasi)
Parameter besar penyakit yang umum dipakai dan dengan sendirinya akan diduga ukurannya dari statistik sampel adalah insidensi penyakit, severitas penyakit, dan prevalensi penyakit, dua parameter pertama dikenal juga dengan istilah intensitas penyakit.

Intensitas penyakit dalam pengertian yang sederhana adalah, proporsi atau jumlah tanaman mati atau sakit dibandingkan dengan jumlah semua tanaman yang diamati, sedangkan severitas penyakit adalah proporsi atau persentase luas atau volume bagian tanaman sakit dibandingkan dengan luas atau volume seluruh bagian tanaman yang diamati, kedua parameter ini biasanya diukur dengan menggunakan tiga macam skala, yakni skala ordinal, interval dan ratio.

"Metode pengukuran yang banyak dipakai adalah metode langsung, yang terdiri atas tipe visual - subjektif, tipe kunci penyakit deskriptif, dan tipe diagram area baku. Pengukuran penyakit pada dasarnya mencakup pengukuran patogen, penyakit yang diukur adalah besar atau tingkat keparahannya, atau dengan istilah yang lebih populer "Intensitasnya".

Ukuran penyakit atau jumlah patogen pada berbagai waktu jarang sama besar, intensitas penyakit pada tanaman inang lazim bertambah seiring dengan waktu, makin dibiarkan penyakit pada tanaman maka makin meningkat intensitasnya, apabila hasil pengamatan menyatakan penyakit yang sama terjadi berulang-ulang pada waktu yang berbeda, maka hasilnya dapat dilukiskan secara kolektif berupa kurva perkembangan penyakit. Gambaran perkembangan penyakit seperti ini yaitu grafik intensitas penyakit terhadap waktu, yang tidak lain adalah jatidiri epidemi. Grafik perkembangan tersebut dikelompokan menurut model yang bersifat teoritis dan empiris, ada delapan jenis model teoritis, namun yang paling banyak dipakai adalah model monomolekuler, logistik dan model Gompertz.

0 comments