Cara Pengendalian Penyakit Tanaman Non Kimiawi

Dalam dunia pertanian, hama dan penyakit tanaman merupakan dua hal yang selalu menakutkan bagi petani, mulai dari kerugian yang ditimbulkan sampai kepada cara-cara penyakit tanaman tersebut menyebar. Agar penyakit tanaman tersebut dapat terkendalim, minimal hasil yang diperoleh tidak mengecewakan, maka banyak hal yang dilakukan oleh petani dalam mengurangi kerugian yang dihasilkan oleh penyakit tanaman tersebut. 

Pada dasarnya pengendalian penyakit terbagi dalam dua kategori: cara kimiawi dan non-kimiawi. Hal yang sama juga berlaku untuk hama. Haruslah menjadi catatan penting bahwa organisme penyakit merupakan makhluk hidup dan hanya dapat hidup dengan baik dalam kondisi yang sesuai, seperti kelebihan pemberian air, kelebihan pemupukan dengan pupuk nitrogen (urea) dan terlalu sering dapat merubah status penyakit dari endemik (ada tetapi tidak berat) menjadi epidemik (menyebar dan berat). Karena itu, diperlukan usaha untuk membuat tanaman tumbuh dalam kondisi ideal. Karena ideal tidak selalu mungkin tercapai, maka diperlukan cara-cara dalam pengendalian penyakit tanaman sampai sekecil-kecilnya. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam upaya pengendalian penyakit tanaman. antara lain:

Cara Non-Kimiawi

1. Sanitasi
Dalam pertanian sayuran, selalu baik untuk membuang semua tanaman yang sakit atau rusak karena serangga dan juga sisa-sisa tanaman setelah panen. Ini harus dibakar ditempat lain atau harus dibenamkan dengan baik. Pada pertanaman semusim, pembuangan tanaman pada stadia awal penyakit, disertai dengan penyemprotan bahan kimia secara bijaksana, akan dapat mengendalikan   penyakit. Jika pemangkasan diperlukan, penyemprotan fungisida diperlukan sekali dalam mencegah masuknya patogen sebelum luka tertutup kalus dengan baik.

Suatu faktor  sanitasi yang sangat penting, akan tetapi sering diabaikan adalah penggunaan bahan tanaman yang bersih. Dengan banyaknya penyakit tanaman yang terbawa benih, penggunaan benih yang bersih merupaka keharusan dalam pengendalian yang baik. Petani harus memperoleh benih dari sumber (pemasok) yang dapat diandalkan, lebih baik lagi jika telah diberikan perlakuan fungisida yang cocok. Jika petani menggunakan benih sendiri, perlakuan benih merupakan keharusan sebagai tindakan pengendalian penyakit tanaman yang murah dan efektif. Petani tidak akan dapat mengharapkan hasil pertanaman yang baik dari benih yang 50 persennya terjangkit tanaman. Benih buncis lokal dan Brassica sering kali memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi seperti antraknose (Colletotrichum lindemuthianum) dan Alternaria brassicicola. Penyakit bengkak akar pekuk (clubroot) juga ditularkan pada permukaan benih dan perlakuan benih dengan 'tecnazene' atau 'calomel' sangat dianjurkan.

menanam-tanaman
penyakit bengkak akar pada sawi


Bersambung ke bagian 2



0 comments