Pupuk Kalium dan Magnesium

Magnesium sulfate
Magnesium sulfate (Photo credit: Wikipedia)
Semua pupuk kalium mengandung hara tanaman kalium dalam bentuk terlarut air, yang mudah tersedia bagi tanaman. Walaupun demikian mereka dapat digolongkan menurut kandungan kaliumnya dan menurut macam anoin dengan nama kalium dikombinasikan. Seyang terpenting cara konvensional, kandungan kalium pupuk kalium dinyatakan dalam bentuk oksidanya, K2O.

Pupuk kalium dan magnesium yang terpenting adalah: 

1. pupuk KCl (kalium klorida) (50-60% K2O) 
2. kalium sulfat (K2SO4, 48-52% K2O) 
3. kalium-magnesium sulfat (Patentkali) (25-30% K2), 9-12%MgO) 
4. kalium bikarbonat (KHCO3, 46% K2O, maksimum 2% Cl) 
5. kiserit (MgSO4, 24% MgO, 32-52% SO4) 

Pupuk KCl untuk kebanyakan tanaman dan tanah, kalium klorida dan kalium sulfat dianggap bernilai sama. Ion klorida sangat mobile dalam tanah dan karenanya dalam iklim basah akan tercuci secara cepat, sedangkan ion kaliumnya dijerap oleh koloid tanah dan ditahan di dalam tanah. Pupuk KCl dengan 50 % K2O mengandung kira-kira 84% KCl dan 16% NaCl. Pupuk KCl dengan 60% K2O mengandung kira-kira 96% KCl dan 3,5% NaCl. Karena dalam keadaan-keadaan tertentu natrium juga dapat berpengaruh menguntungkan pada pertumbuhan tanaman, kandungan natrium di dalam pupuk kalium jangan dianggap sebagai suatu kekurangan kecuali pada spesies yang peka natrium.

Daya larut yang besardari bentuk klorida, membuatnya dapat diberikan dalam air irigasi maupun sebagai semprotan hara. Pada tanah-tanah ringan yang mempunyai proporsi koloid rendah dan karenanya menahan kalium secara lemah, kalium harus diletakkan sedekat mungkin dalam kontak dengan tanah, yaitu dengan menebarkannya merata ada seluruh luasan lahan. Cara ini menjamin pemanfaatan kalium sebaik-baiknya oleh tanaman dan mengurangi kehilangan karena pencucian. Pada tanah berat dengan kandungan koloid yang tinggi terdapat bahaya terjerapnya kalium demikian kuat oleh koloid-koloid tanah sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Fiksasi semacam ini dapat dihindari sampai suatu batas tertentu dengan menempatkan kalium dalam lajur-lajur pada tanah berat, seperti halnya dengan pupuk fosfat.

Kalsium sulfat.    Kalium sulfat mengandung 50% K2O dan K2SO4 sampai sekitar 96%. Pupuk ini lebih disukai daripada KCl di daerah kering, untuk kerabat mentimun, dan juga untuk banyak tanaman lain, yang bagi mereka sangat penting untuk mendapatkan sifat-sifat kualitas khas seperti daya bakar yang lebih baik dari tembakau, atau kandungan minyak atau pati yang lebih tinggi.

Kalium-Magnesium sulfat.   Kalium-magnesium sulfat dianggap sama dengan kalium sulfat. Lagipula, ia terutama cocok untuk semua tanaman yang mempunyai kebutuhan tinggi akan magnesium dan untuk perlakuan tanah-tanah ringan yang kekurangan magnesium, seperti tanah-tanah tropika berpasir di daerah dengan curah hujan tinggi. 

Kalium bikarbonat.    Kalium bikarbonat adalah sumber kalium lainyang baru-baru ini muncul di pasaran. Pupuk ini agak higroskopis, dan mudah larut dalam air. Karena tidak mengandung anion anorganik Cl- maupun SO4.2-, yang ada hanyalah (HCO3-), maka ia lebih disukai untuk semprotan hara, terutama untuk nanas atau pisang, dan untuk semua tanah yang mempunyai resiko tercapainya tingkat kadar garam yang merusak, apakah karena sebab-sebab alami atau sebagai akibat pemberian terus-menerus pupuk anorganik dalam jumlah besar.

Kalium bikarbonat berperan sebagai 'pengamat kapur' dan karenanya cocok untuk perlakuan tanah-tanah masam, terutama di daerah dimana harga kapur mahal. Pupuk ini mungkin akan sangat berguna dalam hidroponik dan pekarangan pasar yang insentif.

Kiserit. Pupuk ini (magnesium sulfat) berguna dalam tanah yang jelas kekurangan magnesium dan dalam kombinasi dengan pupuk KCl atau kalsium sulfat pada perbandingan 1:4, untuk mencegah kekurangan magnesium yang disebabkan oleh kalium.

unsur pupuk