Analisa Usaha Kubis / Kol

DOWNLOAD PDF ANALISA USAHA KUBIS/KOL

Kubis atau kol adalah tanaman holtikultura yang biasanya dibudidayakan dalam skala besar dengan tujuan ekonomis. Kubis bukanlah tanaman musiman sehingga setiap waktu bisa saja digunakan untuk menanam kubis. Kubis atau kol sangat baik pertumbuhan dan perkembangannya di dataran tinggi seperti daerah pegunungan. Untuk daerah pesisi sulit dilakukan budidaya kubis ini, bahkan hampir tidak ditemukan adanya petani kubis di daerah pesisir, sama halnya dengan tanaman sawi, cabe dan tomat.

Jika dianalisa usaha tani kubis ini akan cukup menguntungkan jika kebetulan harga sedang bagus, namun fluktuasi harga kubis sungguh tak dapat diduga-duga, harga kubis termurah bisa mencapai Rp 3000/ Kg. Jika harga kubis sudah dibawah Rp 800 maka bisa dipastikan petani kubis akan mengalami kerugian. Kerugian ini timbul karena mahalnya biaya produksi pertanian di Indonesia terutama menyangkut harga pupuk dan obat-obatan tanaman.

"Analisa usaha kubis secara sederhana dapat dilihat dari hasil produksi kubis dalam 1 ha lahan pertanian. rata-rata 1 hektar lahan mampu memproduksi kubis sebanyak 25 ton. bila harga kubis saat ini Rp. 2500/ Kg berarti omset yang bisa didapatkan dari 1 Ha lahan pertanian adalah Rp. 62.500.000,-. Memang dapat dipastikan jika harga kubis diatas Rp. 1000 saja di pasaran maka petani kubis akan mengalami keuntungan".

Bila kita analisa lebih jauh penyebab mahalnya biaya produksi pertanian di Indonesia adalah karena mahalnya harga pupuk. Untuk mengatasi hal ini pemerintah beberapa kali telah mengeluarkan pupuk subsidi namun ternyata pupuk subsidi ini tidak semua masyarakat petani mendapatkannya terutama Karena masih adanya oknum-oknum yang kerap menyelewengkan penyaluran pupuk bersubsidi.

Untuk mengurangi biaya produksi pemerintah juga telah menganjurkan petani kubis untuk mebudidayakan kubis secara organic, dimana budidaya kubis organik ini diduga mampu mengurangi biaya pemakain pupuk pertanian. Budidaya kubis secara organik ini ternyata juga masih memiliki kendala pada tingkat penerapan dimana masyarakat masih banyak yang belum memahami cara membudidayakan kubis secara organik. Pemerintah juga telah menyebar dan menambah jumlah tenaga penyuluh lapangan untuk bidang pertanian tapi sangat disayangkan masih banyak penyuluh pertanian yang juga tidak memahami konsep budidaya kubis secara organik yang efektif dan produktif.

Kubis atau kol adalah tanaman holtikultura yang biasanya dibudidayakan dalam skala besar dengan tujuan ekonomis. Kubis bukanlah tanaman musiman sehingga setiap waktu bisa saja digunakan untuk menanam kubis. Kubis atau kol sangat baik pertumbuhan dan perkembangannya di dataran tinggi seperti daerah pegunungan. Untuk daerah pesisi sulit dilakukan budidaya kubis ini, bahkan hampir tidak ditemukan adanya petani kubis di daerah pesisir, sama halnya dengan tanaman sawi, cabe dan tomat.  Jika dianalisa usaha tani kubis ini akan cukup menguntungkan jika kebetulan harga sedang bagus, namun fluktuasi harga kubis sungguh tak dapat diduga-duga, harga kusi termurah bisa mencapai Rp 3000/ Kg. Jika harga kubis sudah dibawah Rp 800 maka bisa dipastikan petani kubus akan mengalami kerugian. Kerugian ini timbul karena mahalnya biaya produksi pertanian di Indonesia terutama menyangkut harga pupuk dan obat-obatan.  Analisa usaha kubis secara sederhana dapat dilihat dari hasil produksi kubis dalam 1 ha lahan pertanian. rata-rata 1 hektar lahan mampu memproduksi kubis sebanyak 25 ton. bila harga kubis saat ini Rp. 2500/ Kg berarti omset yang bisa didapatkan dari 1 Ha lahan pertanian adalah Rp. 62.500.000,-. Memang dapat dipastikan jika harga kubis diatas Rp. 1000 saja di pasaran maka petani kubis akan mengalami keuntungan.  Bila kita analisa lebih jauh penyebab mahalnya biaya produksi pertanian di Indonesia adalah karena mahalnya harga pupuk. Untuk mengatasi hal ini pemerintah beberapa kali telah mengeluarkan pupuk subsidi namun ternyata pupuk subsidi ini tidak semua masyarakat petani mendapatkannya terutama Karena masih adanya oknum-oknum yang kerap menyelewengkan penyaluran pupuk bersubsidi.  Untuk mengurangi biaya produksi pemerintah juga telah menganjurkan peternak kubis untuk mebudidayakan kubis secara organic, dimana budidaya kubis organik ini diduga mampu mengurangi biaya pemakain pupuk pertanian. Budidaya kubis secara organik ini ternyata juga masih memiliki kendala pada tingkat penerapan dimana masyarakat masih banyak yang belum memahami cara membudidayakan kubis secara organik. Pemerintah juga telah menyebar dan menambah jumlah tenaga penyuluh lapangan untuk bidang pertanian tapi sangat disayangkan masih banyak penyuluh pertanian yang juga tidak memahami konsep budidaya kubis secara organik yang efektif dan produktif.