Monday, August 18, 2014

Tanah, Pupuk dan Pengelolaan Tanah

Kebanyakan tanah terdiri dari suatu lapisan bahan mineral yang telah mengalami pelapukan, karena sedikit atau banyak telah dipengaruhi oleh iklim, pengatusan dan penutupan vegetasi. Jadi, tanah tidak saja merupakan hasil pelapukan dari bahan induknya tetapi hasil dari kerja lingkungannya. Tanah di daerah tropika basah, karena curah hujan yang tinggi, biasanya tercuci sehingga mengandung lebih sedikit hara daripada tanah yang berasal dari kawasan yang lebih kering, dan karena substansi alkalisnya (kalsium, magnesium, kalium dan natrium) telah tercuci keluar, cenderung bersifat masam secara alami. Tanah-tanah demikian, terutama yang terbentuk di kawasan hutan, kesuburannya sangat tergantung pada tingkat bahan organiknya, yang memberikan perbaikan sifat-sifat fisika (penerimaan/penangkapan curah hujan, kerapatan massa rendah dan penyimpanan lengas) dan daya pegang hara (kapasitas pertukaran kation).

Di beberapa daerah terdapat tanah gambut yang hampir seluruhnya terdiri dari bahan organik - suatu tingkatan yang sangat tinggi. Tanah demikian dapat diperbaiki dengan pengatusan dan pembajakan dalam untuk mengangkat tanah bawahan (sub soil) untuk mengurangi kadar bahan organiknya.

Di daerah yang lebih kering tanah cenderung kurang masam karena kurang tercuci.

Pada tanah mineral, yang merupakan bagian terbesar dari tanah-tanah tropika, sifat bahan induk (batuan darimana tanah itu berasal) mempengaruhi kandungan haranya, stabilitas dan kerentanannya terhadap erosi, maupun kemudahan pengolahannya. Tanah yang berasal dari batuan gunung berapi seperti granit dan basalt seringkali sangat stabil (tanah yang tak bergerak atau tererosi). Tanah-tanah tersebut dapat juga memiliki permeabilitas yang baik jika terbentuk di daerah dengan curah hujan tinggi, karena bahan yang lebih halus tercuci keluar selama waktu periode geologi yang panjang. Kandungan hara (kalsium, magnesium dan kalium) akan bervariasi. Batuan masam seperti granit sebagai bahan induk, kandungan haranya dapat sangat rendah, tetapi pada batuan basa seperti basalt, kandungan haranya akan tinggi bahkan sangat tinggi, tergantung dari derajat pencuciannya. Batuan gunung berapi ini biasanya terdapat di daerah yang bergunung.

Tanah lainnya yang memiliki sifat-sifat yang sangat mirip dengan tanah basalt adalah tanah yang berasal dari batuan kapur. Dapat berupa tanah gunung atau tanah dataran dan merupakan bahan sisa yang tertinggal setelah pelapukan selama periode geologi lama. Warnanya merah, kadang-kadang dengan pemasukan (inclusion) batu kapur yang menyolok dan kandungan kapur yang tinggi. Di daerah datar, tanah ini didominasi oleh batu kapur atau marl (lempung + pasir + kapur).

Tanah yang berasal dari batuan endapan, maupun tanah yang baru terbentuk oleh pengendapan yang dibawa oleh air atau angin, jauh kurang stabil dan biasanya peka terhadap erosi. Ini disebabkan karena tanah tersebut tersusun dari bahan yang mudah dipindahkan oleh air atau angin. Tanah endapan (sedimentary soils) (dari batuan sedimen seperti serpih dan batupasir) ditemukan di kawasan bergelombang dan bergunung di mana mereka muncul oleh gerakan tanah (dorongan ke atas), dan juga pada lahan datar sebagai akibat erosi, yang kemudian digolongkan sebagai tanah yang berbeda. Karena tanah endapan demikian itu sering terdapat di daerah yang datar, yang merupakan akibat dari kemudahannya tererosi, mereka merupakan tanah pertanian  dominan di dunia.


Budidaya Tanaman Dengan Ajir/Para-Para

menanam-tanaman
Gambar 1: Para-para/ajir kerangka A
(Sumber foto: tanaman-hias-indonesia.blogspot.com)


Banyak spesies atau jenis sayuran tropika yang bersifat memanjat dan sayuran tersebut harus ditanam dengan menggunakan para-para. Tonggak juga dibutuhkan untuk mencegah kerebahan pada tanah yang stabil. Dalam banyak kondisi, hasil yang lebih tinggi dapat diperoleh dari sayuran dengan budidaya para-para dibandingkan dengan tipe atau sulur dibiarkan tumbuh di permukaan tanah. Kenaikan hasil yang sangat besar dari budidaya para-para ini dapat dilihat dari budidaya tanaman Cucurbitaceae, Leguminosae, dan Solanceae

Perkembangan tanaman semak atau varietas bertubuh pendek merupakan ciri utama negara-negara maju karena upah tenaga untuk budidaya para-para merupakan penghalang. Namun di kebanyakan negara tropika, budidaya para-para merupakan masalah yang mudah.

Terdapat berbagai tipe struktur para-para yang dapat digunakan untuk sayuran memanjat. Yang paling sederhana adalah menggunakan tiang atau tonggak lurus dengan tinggi yang sesuai kira-kira 2 meter, yang ditanam kuat dalam tanah hingga kedalaman sekitar 170 - 180 cm di atas permukaan bedengan. Tipe para-para ini sangat cocok untuk buncis memanjat karena buncis tidak membawa buah-buah yang berat yang memerlukan penopang yang lebih rumit. Untuk buncis dan kacang panjang, jarak tanam 60 cm dalam dua baris sepanjang bedengan dengan lebar 120 cm akan memberikan hasil optimal. Buncis memanjat dengan melilit, dan beberapa paku dipasang dengan selang jarak tertentu sepanjang tonggak akan membantu pemanjatan.

Ada dua tipe para-para yang umum digunakan, ditunjukkan pada gambar 1 dan 2. Gambar 1, tipe para-para atau ajir kerangka A; cocok untuk tanaman mentimun, gambas atau pare belut. Tonggak harus ditanam cukup kuat untuk mencegah runtuhnya ke arah barisan bila para-para menyanggah buah yang berat. Cara yang paling sederhana untuk menghindari keruntuhan adalah dengan mengikat tiang-tiang tegak pada tonggak melintang dengan lilitan kawat besi lunak. Sedangkan Gambar 2, Para-para atau ajir kerangka segiempat cocok untuk anggur, pare pahit,maupun pare lainnya dan mentimun. Tipe kerangka ini memerlukan waktu sedikit lebih banyak untuk membuatnya daripada kerangka A, tetapi berguna saat pemanenan dan untuk pare yang memerlukan pembungkusan untuk mencegah kerusakan karena lalat buah. Sulur-sulur tanaman dipelihara pada bagian atas panggung dan buah-buah akan dengan mudah bergantungan di bawahnya.

Untuk membuat semua tipe para-para, dianjurkan untuk menggunakan tiang-tiang kayu keras atau tiang-tiang bakau. Jika disimpan secara benar di dalam gudang yang kering setelah digunakan dan dilindungi dari rayap, kayu-kayu tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun. Tiang bambu dan kayu lunak akan tahan hanya kira-kira satu tahun dalam kondisi tropika basah. Mengoles tiang-tiang dengan minyak bekas pelumas (oli bekas) yang dicampur dengan sedikit minyak tanah dan insektisida (BHC) akan memperpanjang umur kayu tersebut.

menanam-tanaman
Gambar 2: Para-para atau ajir kerangka segi empat
(Sumber foto: epetani.pertanian.go.id)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...